Powered By Blogger

Minggu, 05 September 2010

lupa daratan

Alkisah ada sebuah keluarga. Keluarga tersebut terdiri dari Bapak, Ibu, Anak dan Nenek. Mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Mereka hidup bersama dengan bahagia.

Suatu hari sang nenek jatuh sakit. Bapak yang merupakan anak dari nenek dengan setia merawatnya di kamar yang ada di bagian depan rumahnya. Istrinya pun turut membantu mengurus mertuanya, dan cucunya ikut menghibur agar sang nenek tidak kesepian.


Namun ternyata keadaan sang nenek bukannya membaik, malah semakin buruk. Sang nenek tidak bisa lagi buang hajat dengan benar sehingga kadang bau tak sedap tercium dari kamar depan.


Sang Bapak bingung karena keesokan harinya akan ada banyak tamu penting yang datang ke rumah, takut menanggung malu lantaran tercium bau tak sedap tersebut. Sang Bapak akhirnya memindahkan ibunya ke kamar belakang.


Esok hari setelah tamunya datang ke rumah, seluruh keluarga masih rutin menjenguk Nenek di kamarnya. Esoknya lagi, hanya mengintip keadaan nenek dari pintu. Mulai jengah dengan bau tak sedap yang mengumpul di kamar. Dan akhirnya, tidak ada lagi yang menjenguk ke kamar. Hanya menanyakan keadaan si Nenek lewat pembantunya. Si Anak bahkan diperingatkan agar tidak dekat-dekat dengan kamar Nenek.


Karena keadaannya yang semakin melemah, Nenek berkali-kali memecahkan peralatan makan yang terbuat dari keramik. Akhirnya Bapak mengganti piring Nenek dengan batok kelapa dan gelas dengan bumbung dari bambu yang dibelah.


Suatu ketika, si Anak berhasil lolos dari pengawasan pembantu dan masuk ke kamar Nenek. Nenek pun senang karena bisa mengobrol dengan cucunya.


“Nenek kok tidurnya di kamar belakang? Biasanya tidur di kamar depan…”, tanya si Anak.


“Iya nak, kalau sudah tua memang tidurnya di kamar belakang…”, jawab si Nenek.

……


“Kok Nenek makannya pakai batok kelapa? Kenapa nggak pakai piring seperti kita?”, si Anak bertanya lagi. Polos.


“Iya kalau sudah tua, memang makannya pakai batok. Seperti nenek ini…Piring itu buat yang masih muda”, jawab Nenek lagi.

…….


Si Cucu terus menghibur Neneknya dengan tingkah lakunya yang masih polos.

—— ——–


Keesokan harinya, seluruh keluarga pergi jalan-jalan. Tanpa Nenek yang masih sakit tentunya. Di tengah perjalanan, si Anak menemukan sebuah batok kelapa yang terapung-apung di sebuah parit. Parit tersebut kotor, hitam, dan banyak sampahnya.


Si Anak merengek kepada Bapak dan Ibunya agar diambilkan batok kelapa tersebut.


“Jangan nak, batok kelapa itu kotor, bau dan banyak kumannya”, jelas si Bapak.


“Pokoknya aku mau itu..Tolong ambilin Pak”, si Anak tetap merengek.


Karena si Anak terus menerus merengek minta diambilkan, akhirnya Bapak merasa iba dan mengambilnya. Lantas bertanyalah ia kepada anaknya.


“Memang buat apa sih kamu mau batok kelapa seperti ini? Ini kan kotor dan bau..” tanya Bapaknya.


“Aku mau pakai ini buat persiapan Bapak dan Ibu kalau sudah tua nanti”

Terkejutlah kedua orangtua dari anak tersebut. Sekonyong-konyong mereka berbalik arah, melupakan tujuan mereka semula, dan kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, mereka langsung memindahkan Nenek kembali ke ruang depan, tanpa peduli baunya yang tak sedap. Sejak itu mereka kembali merawat Nenek dengan penuh kasih sayang. Mereka benar-benar belum siap diperlakukan seperti apa yang mereka lakukan ke Nenek. Oleh anak mereka sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar